Sleep Paralysis, Gangguan Tidur: Antara Mitos dan Pandangan Medis

Pernahkah anda mendengar gangguan tidur “sleep paralysis?”. Kemungkinan sebagian dari kita baru mendengarnya. Tetapi, menurut beberapa penelitian, semua orang pernah mengalami gangguan tidur ini, minimal 2 sampai 3 kali dalam hidupnya, bahkan ada beberapa orang yang sering mengalaminya.
Sleep paralysis adalah sebuah gangguan tidur, dimana seseorang merasa lumpuh tidak bisa bergerak dari tidurnya. Orang tersebut sadar, dan mengetahui, melihat atau mendengar seluruh yang terjadi disekitarnya (seluruh inderanya aktif), tetapi tidak mampu menggerakkan otot-ototnya, seakan-akan ada yang menindih. Dalam bahasa sehari-hari, sleep paralysis kita kenal dengan nama “tidur ketindihan”.
Dalam beberapa budaya, fenomena ini dikaitkan dengan gangguan makhluk halus, yang mengganggu orang tersebut. Mereka percaya bahwa, pantangan atau larangan kemungkinan menjadi penyebab makhluk halus mengganggunya, sehingga otot-ototnya ditahan oleh makhluk tersebut. Bahkan beberapa budaya mengajarkan bagaimana cara membangunkan orang yang sedang mengalami “tidur ketindihan” ini. Ada dengan cara dikagetkan dari tidurnya, ada dengan mengambil paksa bantal yang digunakannya, bahkan ada yang menyarankan untuk mengguyurnya dengan air. Yang menjadi masalah adalah, bagaimana orang tahu jika orang tidur tersebut sedang mengalami “tidur ketindihan”, padahal dia sendiri tidak bisa berbicara?
Dalam pandangan dunia medis, “tidur ketindihan” atau sleep paralysis adalah hal yang masih normal. Sleep paralysis terjadi jika konerja otak tidak terhubungan dengan otot. Jadi terdapat pemisah antara aktivitas otak dengan otot, sehingga otak tidak bisa memberikan atau menyalurkan sinyal kepada otot. Akibatnya adalah,orang tersebut seakan-akan merasa lumpuh. Orang tersebut sadar, mendengar, melihat atau mencium segala apa yang ada disekitarnya, karena memang alat inderanya berfungsi, tetapi untuk merespon atau memberikan perintah keotot terasa ada penghalang, sehingga secara fisik orang tersebut tidak bisa bergerak.
Perlu diketahui bahwa, aktivitas otak pada saat kita tidur, bekerja dalam dua system kesadaran. Yaitu tidur pada saat REM (rapid eye movement) dan non-REM, keduanya bekerja pada tingkat gelombang otak tertentu. REM adalah keadaan tidur dimana otak tetap bekerja sementara fisik beristirahat. Tidur dalam keadaan REM memungkinkan orang untuk untuk bermimpi, bahkan bisa mengulang kejadian yang terjadi saat masih terbangun dan berlanjut dalam mimpinya. Tidur non-REM adalah keadaan tidur dimana otak berada pada gelombang tertentu, sehingga yang aktif adalah fisiknya. Mengkin anda pernah mengalami atau pernah melihat seseorang yang bangun dari tidurnya membuka pintu, tetapi masih dalam keadaan tertidur. Keadaan ini dialami jika orang tersebut tidur dalam keadaan non-REM.
Kemungkinan orang yang mengalami gangguan sleep paralysis adalah pada saat orang tersebut berada pada keadaan tidur REM. Tetapi, belum ada penjelasan pasti penyebab dari sleep paralysis ini. Tetapi beberapa asumsi mengatakan bahwa, ini disebabkan oleh gaya tidur yang salah, kecapean, ataupun mengalami stress.

Sumber: http://www.psychologymania.com/2012/02/sleep-paralysis-gangguan-tidur-antara.html


Related post:


0 komentar:

Posting Komentar