Telaah Historis Perkembangan Psikologi Eksperimen dan Metode Eksperimen


CAKUPAN MATERI

A. PENDAHULUAN

B. SEJARAH LAHIRNYA PSIKOLOGI

C. BERBAGAI PERSPEKTIF PSIKOLOGI

  1. BERBAGAI METODE DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI
  2. PSIKOLOGI EKSPERIMEN
  3. METODE EKSPERIMEN
  4. PENUTUP

A. PENDAHULUAN

Makalah ini ditulis dalam bentuk telaah historis, dengan tujuan untuk menyegarkan kembali:

  • sejarah lahirnya psikologi eksperimen,
  • perkembangan perjalanannya sehingga menjadi salah satu cabang ilmu psikologi, dan
  • perkembangan selanjutnya yg secara evolusioner mampu mengubah statusnya, menjadi suatu metode
  • karena berbagai kelebihannya, metode eksperimen banyak digunakan dalam berbagai cabang psikologi
  • dari 40 hasil penelitian yg paling berpengaruh (influential), yg mampu meletakkan dasar filosofis, menginspirasi pemikiran baru, dan bahkan mengubah arah secara dramatis pengembangan ilmu psikologi, 80% diantaranya menggunakan metode eksperimen

Diharapkan telaah historis ini dapat mengantarkan para peserta konferensi untuk lebih mudah mengikuti berbagai topik yang disajikan dalam konferensi ini.

B. LAHIRNYA PSIKOLOGI



Latar Belakang Historis

Bermula dari pandangan para ahli filsafat Yunani Kuno :

Plato – (427-347) :

learning – a process of inner reflection to discover the knowledge within us”.

Aristoteles – (384-322) :

knowledge acquired through experience”.

Descartes- (1596-1650) :

”mind body dualism; reflexes; behavior controlled by the mind or will”.

Psikologi lahir th 1879 dengan ditandai oleh sebuah laboratorium di kota Leipzig - Germany.

First Psychologists (late 1800s-early 1900s)

Wilhelm Wundt

the father of experimental psychology

Studied reaction time to simple and two-choice stimuli

Pada saat itu psikologi identik dengan psikologi eksperimen, yang menyelidiki unsur-unsur kesadaran manusia dengan metode eksperimen. I

Gerakan laboratorium ini kemudian melanda dunia psikologi untuk menegaskan bahwa psikologi adalah pewaris ilmu alam dan biologi.

Mata kuliah psikologi eksperimen beserta dengan praktikum di laboratorium menjadi hal baku dalam kurikulum psikologi.

Seperti halnya yang dialami dalam pengembangan ilmu-ilmu lain, sejarah perkembangan ilmu psikologi juga mengenal berbagai pasang surut.

Pada kurun waktu tertentu perkembangannya begitu lambat namun pada kurun waktu yg lain begitu cepat & sangat dinamis, dan pada kurun waktu yg lain lagi seolah mengalami stagnasi.

Psikologi adalah psikologi eksperimen, sebelum pada akhirnya menjadi salah satu cabang psikologi yg mempelajari fisiologi, sensasi, persepsi, belajar atau kondisioning, kognisi, dan sikap.

Berbagai rumusan tentang definisi psikologi nampak beraneka rupa dan mengalami perubahan dari masa ke masa.

Pada awalnya, yaitu sekitar 1890 oleh William James, psikologi didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang aktivitas mental, seperti perasaan, keinginan, kognisi, penalaran, dan pengambilan keputusan.

Di era 1919-an, psikologi pernah didefinisikan oleh Watson sebagai studi ilmiah tentang perilaku yang dapat diobservasi.

Psikologi, sesuai namanya yang berasal dari kata Yunani psyche (mental) dan logos (ilmu) yang berarti studi tentang mental dan jiwa, didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental (Davidoff, 1980).

DEFINISI PSIKOLOGI

Menurut Coon (1983), psikologi didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang perilaku organisme.

Gray (2002) mendefinisikan bahwa psikologi adalah ilmu ttg perilaku dan mental. Perilaku yang dimaksud meliputi perilaku yg dapat diobservasi, sedangkan yg dimaksud mental meliputi sensasi, persepsi, memori, fikiran, mimpi, motivasi, emosi, dan pengalaman-pengalaman subyektif lain seseorang.

Dewasa ini, psikologi didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang perilaku dan proses-proses mental (Passer & Smith, 2004).

Meskipun demikian selama satu abad (1887-1987) telah teramati bahwa definisi yang stabil adalah psikologi sebagai ilmu tentang perilaku (Hastjarjo, 2008).

Definisi ini secara langsung maupun tidak langsung, sangat terkait dengan perkembangan psikologi itu sendiri.

C. BERBAGAI PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Terdapat 6 perspektif dalam memandang psikologi, dimana masing-masing memberikan suatu konsep penting dalam memandang perilaku manusia.

Tidak ada perspektif yang benar atau salah dalam psikologi, oleh karenanya sebagian besar ahli psikologi memilih mengintegrasi-kan pandangan yang terbaik dengan menggunakan sintesis dalam menguraikan fenomena psikologi.

Keenam perspektif tersebut adalah:

  1. Psychodynamic à searches for the cause of behavior within the inner working of our personality
  2. Behavioral à the role of the external environment in governing our actions
  3. Humanistic à free will, personal growth, and the attempt to find meaning in one’s existence
  4. Cognitive à examine the nature of the mind and how mental processes influence behavior
  5. Sociocultural à how the social environment & cultural learning influence our behavior, thoughts, and feelings
  6. Biological à how brain processes & other bodily functions regulate behavior

Perubahan perspektif terjadi silih berganti dalam psikologi, namun psikologi eksperimen sebagai kajian mental dan perilaku dengan metode eksperimen tampak berdiri tegak. The old tradition continues …………”.

D. BERBAGAI METODE DALAM PENELITIAN PSIKOLOGI

Sasaran dari mempelajari metode penelitian psikologi, adalah dapat lebih memahami:

pola fikir kritis para ilmuwan ttg perilaku manusia,

bagaimana melaksanakan penelitian-penelitian psikologi, baik yang bertujuan menguji suatu hipotesis maupun menyelesaikan permasalahan praktis, dan

bagaimana mengevaluasi hasil-hasil penelitian psikologi, sehingga dapat belajar/terinspirasi bagaimana mengaplikasikan pemikiran-pemikiran kritis dalam penelitian psikologi, atau bahkan dapat menghasilkan dukungan, kritikan atau penolakan atas hasil suatu penelitian psikologis.

menjelaskan, dan memprediksikan, serta mengontrol perilaku manusia.

Dalam perjalanannya, tercatat cukup banyak metode yang berkembang dalam psikologi. Sesuai cara memperoleh datanya, metode-metode tersebut antar lain adalah:

  1. metode Introspeksi: subyek yang diteliti melakukan pengamatan terhadap dirinya sendiri kemudian hasilnya disampaikan kepada peneliti; metode ini memiliki kelemahan berupa subyektivitas yang relatif tinggi,
  2. metode introspeksi eksperimental : metode introspeksi secara eksperimen; subyek terlebih dahulu dilatih untuk melakukan introspeksi (jumlah subyek banyak, dan semua pengaruh faktor luar dikontrol),
  3. metode observasi : adalah metode penelitian dengan cara melakukan pengamatan terhadap subyek yang diteliti,
  4. metode survei : yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan ke lapangan dan diikuti dengan mengajukan pertanyaan kepada subyek/orang-orang tertentu
  1. metode angket (kuesioner): menggunakan daftar pertanyaan/ pernyataan yg sudah ditulis yg harus dijawab oleh responden (angket terbuka: jawaban belum disediakan, angket tertutup: jawaban sudah tersedia),
  2. metode interview : pengumpulan datanya dengan cara mengaju-kan pertanyaan secara lisan kepada interviewi, yang dapat berupa interview terstruktur, tidak terstruktur, terencana, dan interview incidental,
  3. metode studi kasus : datanya diperoleh dari kasus-kasus tertentu,
  4. metode biografi : datanya diperoleh dari tulisan tentang kehidupan seseorang melalui riwayat hidupnya,
  5. metode analisa kerja : penelitian dilakukan dengan mengadakan penganalisaan hasil kerja seseorang, dengan asumsi bahwa karya merupakan pencetusan dari keadaan jiwa seseorang
  6. metode klinis : mempelajari keadaan jiwa dari pasien yang memiliki kelainan keadaan jiwanya,
  7. metode korelasional : menghubungan antara dua trait, perilaku, atau peristiwa, untuk dicoba dikorelasikan satu sama lain dengan urutan tertentu,
  8. metode eksperimen : memiliki karakteristik: adanya sejumlah subyek yang diberikan perlakuan (vi), penugasan secara random, kontrol variabel yg baik, dan data yg diamati (vd) diperoleh melaui pengukuran respon subyek.
  9. metode eksperimen kuasi : Konsep rancangan ii dikenalkan pertamakai oleh Campbell & Stanley (1966) untuk membantu memecahkan permasalahan yg dihadapi psikolog dalam melakukan kajian perilaku manusia dalam setting natural yg tentunya kurang terstruktur dibanding di Laboratorium ; variabel independen dipilih berdasarkan situasi lingkungan natural.

E. PSIKOLOGI EKSPERIMEN

Banyaknya permasalahan psikologi yg harus dikaji oleh psikologi eksperimen, mengubah secara evolusioner psikologi eksperimen.

Psikologi eksperimen dimengerti tidak lagi sebagai sebuah cabang psikologi tetapi sebuah metode.

Metode eksperimen sangat ampuh dalam menentukan hubungan kasualitas dibanding metode lain.

Kekuatan metode iniah yg membuatnya banyak digunakan dalam berbagai cabang psikologi, antara lain psikologi pendidikan, klinis dan kesehatan, sosial, perkembangan, industri dan organisasi, serta ergonomika.

Perubahan perspektif terjadi silih berganti dalam psikologi, namun psikologi eksperimen sebagai kajian mental dan perilaku dengan metode eksperimen tampak berdiri tegak.

The old tradition continues …………”.

40 hasil penelitian yg ditengarai paling berpengaruh (influential)

Sepanjang sejarah perkembangan ilmu psikologi, sampai saat ini terdapat 40 hasil penelitian yang ditengarai paling berpengaruh (influential) dan mampu meletakkan dasar, menginspirasi pemikiran baru, dan bahkan mengubah arah secara dramatis pengembangan ilmu psikologi (Hock, 2002).

Ke 40 penelitian tersebut dapat dikelompokkan dalam 10 bidang kajian, yaitu:

1. biologi dan perilaku manusia

2. persepsi dan kesadaran

3. belajar dan kondisioning

4. intelegensi, kognisi dan memori

5. perkembangan manusia

6. emosi dan motivasi

7. kepribadian

8. psikopatologi

9. psikoterapi

10. psikologi sosial.

Yang menarik untuk disimak adalah bahwa dari ke 40 hasil penelitian yg sangat berpengaruh tersebut, 32 diantaranya (80%) ternyata menggunakan metode eksperimen untuk mengungkap temuan-temuanya.

R.R. Hock (2002), Forty Studies that Changed Psychology – explorations into the history of psychological research (4th ed.). New Jersey: Prentice Hall.

1. Pada bidang biologi dan perilaku manusia, terdapat 4 studi yang dinilai sangat berpengaruh, yaitu oleh: (a) Gibson & Walk, 1960, tentang visual cliff, yang berupaya mengungkap apakah persepsi tentang kedalaman pada bayi merupakan hasil belajar ataukah insting, (b) Gazzaniga, 1967, tentang the split brain, yang berupaya mengungkap sejauh mana otak kanan dan otak kiri manusia mampu difungsikan secara independen, dan apakah keduanya terpisah dan memiliki kemampuan tertentu yang berbeda, (c) Rosenzweig dkk, 1972, tentang brain changes in response to experience, yang berupaya mengungkap apakah pengalaman akan menghasilkan perubahan fisis pada otak (celebral cortex akan lebih berat dan lebih tebal), dan (d) Bouchard dkk, 1990, tentang twin reared apart, yang berupaya mengungkap apakah karakteristik dan perilaku kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh genes katimbang oleh lingkungan sekitarnya, melalui pengamatan terhadap anak kembar monozygotic yang dipisahkan kehidupannya.

Kesemua penelitian yg sangat berpengaruh tsb menggunakan metode eksperimen dalam mengungkap masalah-masalah yang diteliti.

2. Dalam bidang persepsi dan kesadaran, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Aserinsky & Kleetman, 1953, dan oleh Dement, 1960, tentang eye movement pada anak-anak, dalam upaya mengungkap adanya gerakan mata yang aktif pada saat anak-anak tidur dan mengalami mimpi, (b) Turnbull, 1961, tentang kontroversi nature-nurture terkait pengaruh relatif biologi versus lingkungan terhadap perilaku seseorang, yang mampu menyulut para peneliti perilakuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut lagi, (c) Hobson & McCarley, 1977, terkait hipotesis revolusioner tentang mimpi (activation-synthesis hypothesis), dimana mimpi secara otomatis dipicu oleh adanya proses fisiologis dalam otak kita (tidur dengan rapid eye movement akan menyebabkan mimpi), dan (d) Spanos, 1982, tentang perilaku hipnotis, yang diartikan sebagai perilaku hasil dari motivasi tinggi dan tujuan yang diarahkan, bukannya suatu tahapan kesadaran.

Dua dari keempat penelitian yg sangat berpengaruh tsb menggunakan metode eksperimen dalam mengungkap masalah yang diteliti.

3. Dalam bidang belajar dan kondisioning, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Watson & Rayner, 1920, tentang respons emosional terkondisi, dimana suatu perasaan atau emosi tertentu dapat muncul melalui kondisioning, (b) Pavlov, 1927, tentang teori kondisioning klasik, atau conditioned reflexes, yang menjadi salah satu teori fundamental dan mampu menginspirasi banyak peneliti lain dalam mengkaji perilaku manusia, (c) Skinner, 1948, tentang superstitious behavior in pigeon and how humans become superstitious in exactly the same way, dan (d) Bandura, Ross & Ross, 1961, tentang Bobo Doll Study, dimana perilaku agresif dapat dipelajari dari anak-anak melalui model pelanggaran orang dewasa.

Kesemua penelitian yg sangat berpengaruh tsb menggunakan metode eksperimen dalam mengungkap masalah yang diteliti.

4. Dalam bidang intelegensi, kognisi dan memori, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Asch, 1946, tentang, (b) Tolman, 1948, tentang, (c) Rosenthal & Jacobson, 1966, dan (d) Loftus, 1975, tentang .

Kesemua penelitian yg sangat berpengaruh tsb menggunakan metode eksperimen dalam mengungkap masalah yang diteliti.

5. Dalam bidang perkembangan manusia, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Piaget, 1954, tentang, pengembangan konsep obyek : pembentukan realitas pada anak-anak, (b) Harlow, 1958, tentang the nature of love , (c) Zajonc, 1975, tentang urutan kelahiran dan perkembangan intelektual, dan (d) Langer & Rodin, 1976, tentang pengarauh pilihan dan peningkatan tanggung-jawab personal untuk yang telah berusia.

Kesemua penelitian yg sangat berpengaruh tsb menggunakan metode eksperimen dalam mengungkap masalah yang diteliti.

6. Dalam bidang emosi dan motivasi, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Festinger & Carlsmith, 1959, tentang, cognitive consequences of forced compliance, (b) Masters & Johnson, 1966, tentang human sexual response , (c) Holmes & Rahe, 1967, tentang Social Readjustment Rating Scale, dan (d) Ekaman & Friesen, 1971, tentang Constants Across Cultures in the face and emotion.

Dari keempat penelitian yang paling berpengaruh tersebut, kesemuanya menggunakan metode eksperimen.

7. Dalam bidang kepribadian, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Friedman & Rosenman, 1959, tentang, association of specific overt behavior pattern with blood and cardiovascular findings, (b) Kohlberg, 1963, tentang the evelopment of children’s orientations toward a moral order: Sequence in the development of moral thought, (c) Rotter, 1966, tentang The generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement, dan (d) Triandis dkk, 1988, tentang Individualism and collectivism : Cross-Cultural Perspectives on self-ingroup relationships.

Dari keempat penelitian yang paling berpengaruh tersebut, dua diantaranya menggunakan metode eksperimen.

8. Dalam bidang psikopatologi, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Freud, 1946, tentang The ego and the mechanisms of defense, (b) Calhoun, 1962, tentang Population density and social psychology, (c) Seligman & Maier, 1967, tentang Failure to escape traumatic shock, dan, dan (d) Rosenhan, 1973, tentang, on being sane in insane places.

Dari keempat penelitian yang paling berpengaruh tersebut, tiga diantaranya menggunakan metode eksperimen.

9. Dalam bidang psikoterapi, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) Murray, 1938, tentang Explorations in personality, (b) Rorschach, 1942, tentang Psychodiagnostics: A diagnostics test based on perception, (c) Wolpe, 1961, tentang The systematic disensitization treatment of neuroses, dan (d) Smith & Glass, 1977, tentang, Meta-analysis of psychotheraphy outcome studies.

Dari keempat penelitian yang paling berpengaruh tersebut, tiga diantaranya menggunakan metode eksperimen

10. Dalam bidang psikologi sosial, terdapat 4 hasil penelitian yang dinilai paling berpengaruh, yaitu oleh: (a) LaPiere, 1934, tentang, Attitute and actions, (b) Asch, 1955, tentang Opinions and social pressure, (c) Milgram, 1963, tentang Behavioral study obedience, dan (d) Darley & Latane, 1968, tentang Bystander intervention in emergencies: Diffusion of responsibility.

Dari keempat penelitian yang paling berpengaruh tersebut, tiga diantaranya menggunakan metode eksperimen.

F. METODE EKSPERIMEN

Banyaknya permasalahan psikologi yg harus dikaji oleh psikologi eksperimen, mengubah secara evolusioner psikologi eksperimen.

Psikologi eksperimen dimengerti tidak lagi sebagai sebuah cabang psikologi tetapi sebuah metode.

Metode eksperimen sangat ampuh dalam menentukan hubungan kasualitas dibanding metode lain.

Kekuatan metode iniah yg membuatnya banyak digunakan dalam berbagai cabang psikologi, antara lain psikologi pendidikan, klinis dan kesehatan, sosial, perkembangan, industri dan organisasi, serta ergonomika.

Perubahan perspektif terjadi silih berganti dalam psikologi, namun psikologi eksperimen sebagai kajian mental dan perilaku dengan metode eksperimen tampak berdiri tegak.

The old tradition continues …………”.

G. PENUTUP

Telah disampaikan telaah historis terkait psikologi eksperimen, yg mencakup :

  • sejarah lahirnya psikologi eksperimen,
  • perkembangan perjalanannya sehingga menjadi salah satu cabang ilmu psikologi, dan
  • perkembangan selanjutnya yg secara evolusioner mampu mengubah statusnya, menjadi suatu metode yang banyak digunakan dalam berbagai cabang psikologi.
  • dari 40 hasil penelitian yg paling berpengaruh (influential), yg mampu meletakkan dasar filosofis, menginspirasi pemikiran baru, dan bahkan mengubah arah secara dramatis pengem-bangan ilmu psikologi, 80% diantaranya menggunakan metode eksperimen

Oleh:

Magda Bhinnety

Laboratorium Psikologi Eksperimen

Fakultas Psikologi UGM 2010




Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar