Perkembangan Islam di Indocina (Kamboja & Vietnam)


BAB I.

PENDAHULUAN

Komunitas Camp adalah warga kerajaan Campa, suatu kerajaan besar di Asia Tenggara pada abad ke-17. Kontak dagang dengan berbagai negara tetangga telah membuka jalan bagi masuknya agama Islam di kerajaan ini. Islam masuk ke Campa diperkirakan pada tahun 1607. Banyak warga Campa yang kemudian memeluk Islam. Tak hanya warga biasa, keluarga kerajaan banyak yang memeluk Islam.

Campa, terletak di Vietnam Tengah, di garis lintang 17 utara hingga ke Saigon, merupakan sebuah kerajaan tertua yang pernah ada dan disinggung dalam teks Cina pada akhir abad ke-11 Masehi.

Di bagian akhir tulisannya tentang Kedatangan Islam ke Campa - “The Introduction of Islam to Campa”, Doctor Pierre-Yves menyatakan bahwa yang menyakinkan ialah bahwa pemerintah Campa memeluk Islam pada akhir abad ke-17 Masehi.

Kemudian oleh karena gangguan Vietnam, proses pengislaman itu berlaku sebagian saja dan tidak menyeluruh. Seandainya golongan pendatang Camp ke Kamboja diambil maka hampir 80% dari keseluruhan penduduk Camp memeluk agama Islam.

Untuk melihat fenomena itu lebih dekat boleh diberikan perhatian kepada hubungan negeri itu dengan negeri-negeri yang berdekatan di Dunia Melayu. Sebagaimana yang boleh diperhatikan ialah adanya kawasan kediaman orang Campa di Melaka di akhir abad ke 15 Masehi.

Bukti-bukti tentang adanya hubungan negeri Campa dengan kawasan lain Asia, khususnya Asia Tenggara, menunjukkan dan menyanggahi kenyataan yang menyebutkan hilangnya negeri Campa dari sejarah, setelah kejatuhan ibu kota negerinya, Vijaya, pada tahun 1471; dan mereka masih kuat pada akhir abad ke-16 Masehi sehingga ia mengirim tentara bantuan ke negeri Johor, dan para pedagangnya terus menerus pada abad ke-17 Masehi mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara. Kelemahan berjalan sedikit demi sedikit, antara tahun 1691 dan 1697 akibat serangan orang Vietnam, yang menjadikannya satu wilayah Binh-thuan, di bawah Nguyen, dan pelabuhan Campa terakhir[1] masuk ke tangan mereka. Terasing daripada kawasan lain di Asia, mereka mundur ke kawasan pedalaman, dan masih eksis dalam alam yang menentangnya, di bawah otoritas kerajaan yang kecil yang dilantik oleh Hue, dan dikontrol oleh kekuasaan Vietnam.

Bukti-bukti itu menunjukkan proses bagaimana negeri itu menjadi negeri Islam. Mulai dari tumbuhnya kerajaan Melaka, Orang Melayu memainkan peranan yang mendominasi di dalamnya; pertama melalui kerajaan Melaka itu sendiri, kemudian Johor, di mana kesultanan masih ada selepas kejatuhan Melaka, kemudian melalui kawasan-kawasan pendudukan Melayu yang memainkan peranannya, terutama sekali pada Kamboja, yang selalu ada hubungan dengan kawasan pendudukan orang Camp yang menerima agama Islam dengan hubungan ini. Dengan cara yang sama, Orang Melayu yang berpindah datang ke Campa nampaknya memainkan peranan mendatangkan pengaruh ke atas Orang Campa.

Jelaslah, orang Campa, sebagaimana Orang Melayu, adalah penganut Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, dari segi fiqhnya kepada mazhab Imam Syafi’i. Memang kenyataannya, orang Campa ini berhubungan dengan dunia Melayu, yang mereka memang merupakan bagian dari segi budaya dan agamanya.

Secara ringkas boleh dilihat dengan nyata kedudukan Campa yang strategis karena terletak di jalan perdagangan laut antara negeri Cina dan Nusantara; berhubungan dengan kekuatannya dikatakan ia mempunyai angkatan tentara perkasa, khususnya tentara laut yang dikenali sebagai Orang Riak (orang ombak) berarti dalam istilah Melayu Orang Laut. Negeri ini pernah mencapai kegemilangannya di abad ke-10 hingga ke-15 Masehi. Tetapi kemudian ia menghadapi ancaman perluasan daerah dari Diet-Viet (Orang Vietnam) yang menjadi bebas kekuasaannya pada abad ke-10 Masehi; akhirnya pihak Diet-Viet ini berhasil menaklukkan Campa tahun 1069, 1307, 1471, 1611, 1653, dan 1659 Masehi.

Pada awal abad ke-19 berlaku perubahan politik antara Pandurangga-Campa dengan istana Hue (Vietnam). Dengan itu maka Maharaja Minh Menh (Vietnam) membuat keputusan menghapuskan Campa dari peta Indocina dan meng“Vietnamkan orang-orang Campa yang berkebudayaan Melayu dan beragama Islam menjadikan mereka berkebudayaan dan mengikuti kepercayaan Vietnam.

Setiap orang mengetahui bahwa negeri Campa terletak dari segi geografinya di Semenanjung Indochina, tetapi negeri ini berkebudayaan Melayu. Penduduknya bertutur dalam kumpulan bahasa Austronesia, agak mirip dengan bahasa Melayu. Mereka beragama Islam (beraliran Ahlus-Sunnah wal-Jamaah). Campa adalah sebuah negeri rumpun Melayu.

Hubungan Campa dengan dunia Melayu sudah sejak zaman purba kala. Pada abad ke-7 Masehi, dalam sumber Campa sudah menyebut tentang serangan Jawa[2] di Pantai Campa. Pada abad berikutnya, hubungan di antara ke dua negeri ini menjadi baik, karena Campa membuat hubungan persahabatan dengan penguasa Sriwijaya dan Majapahit dan terakhir dengan Kesultanan Melaka. Hubungan tersebut dapat dilihat pada beberapa peristiwa seperti lawatan pembesar Campa ke Sriwijaya pada akhir abad ke-9 Masehi, kehadiran kedutaan Sriwijaya di Campa pada abad ke-10 Masehi, perkawinan Raja Campa dengan puteri Jawa[3] di akhir abad ke-13 Masehi, dan perkawinan adik perempuan Raja Campa dengan Raja Majapahit[4] di abad ke-15 Masihi.

Berikut dengan kemunculan Melaka di permulaan abad ke-15 Masehi, satu perubahan besar telah berlaku dalam politik dan perdagangan Campa dengan Nusantara. Campa lebih memusatkan perhatiannya kepada perhubungan dengan penguasa Melaka. Di masa itu Melaka menjadi pusat perdagangan antarabangsa di mana terdapat banyak kapal-kapal dagang Campa datang untuk berdagang. Melaka juga pernah menjadi tempat perlindungan kepada pelarian dari kalangan pembesar Campa, setelah kejatuhan ibu kota Vijaya (Campa) pada tahun 1471 Masehi ditangan Dai Viet (Vietnam). Pada akhir abad ke-15 Masehi dan permulaan abad ke-16 Masehi pembesar-pembesar Campa telah memperoleh banyak keistimewaan dari Sultan Melaka. Kerena menurut sumber Melayu, pada akhir abad ke-15 Masehi (1594) Raja Campa mengirimkan bala tentaranya kepada Sultan Johor untuk menyerang Portugis. Pada abad ke-17 Masehi Campa menerima pendakwah-pendakwah Melayu dari Semenanjung Tanah Melayu untuk menyebarkan agama Islam.

BAB II.

PEMBAHASAN

A. Sekilas Sejarah Campa

Sebelum terbentuknya kerajaan Campa, didaerah tersebut sudah terdapat kerajaan Lin-Yi (Lam Ap), akan tetapi sampai saat ini belum diketahui dengan jelas hubungan antara Lin-yi dan Campa.

Kerajaan Campa merupakan sebuah kerajaan yang tertua di Asia Tenggara. Ini dapat diketahui berdasarkan dari sumber Cina sejak tahun 192 Masehi. Rakyatnya terdiri dari beberapa etnik termasuk etnik Camp yang merupakan satu etnik dalam rumpun Melayu-polinesia atau Austronesia. Dalam sepanjang sejarah orang Camp, ramai meninggalkan tanah airnya yang tercinta mereka, disebabkan perluasan wilayah Vietnam ke selatan yaitu Nam tien (Dai Viet). Mereka mencari tempat perlindungan yang aman untuk terus hidup. Kebanyakan mereka menetap di Kamboja. Peristiwa yang berlaku dalam suku ketiga abad ke-20[5] telah menyebabkan mereka yang masih tinggal di Kamboja dan Vietnam berhijrah sekali lagi ke negara-negara lebih jauh untuk meyelamatkan diri. Kali ini mereka ke Malaysia dan juga ke Eropah, Amerika, Indonesia dan Oceania.

Masyarakat Camp telah menghuni negara Khmer semenjak abad ke-11. Hubungan antara Campa dan Khmer ada disebut dalam inskripsi termasuk yang menyatakan bahwa seorang putera raja dari Campa telah mengawini seorang puteri Khmer. Walau bagaimanapun sebagian besar orang Camp tiba di Kamboja selepas kejatuhan Vijaya, ibu negara Campa pada tahun 1471.

B. Wilayah Kekuasan Kerajaan Campa

Daerah Campa meliputi area pegunungan disebelah barat daerah pantai Indocina, yaitu dari waktu ke waktu meluas meliputi wilayah Laos sekarang. Akan tetapi, bangsa Campa lebih berfokus pada laut dan memiliki beberapa kota di sepanjang pantai.

Sebelum tahun 1471, Campa merupakan konfederasi dari 5 kepangeranan, yang dinamakan menyerupai nama wilayah-wilayah kuno di India[6]:

· Indrapura – Kota Indrapura saat ini disebut Dong Duong, tidak jauh dari Da Nang dan Hue sekarang. Da Nang dahulu dikenal sebagai kota Sighapura, dan terletak dekat lembah My Son dimana terdapat banyak reruntuhan candi dan menara. Wilayah yang dikuasai oleh kepangeranan ini termasuk proponsi-propinsi Quang Binh, Quang Tri, dan Thua Thien Hue sekarang ini di Vietnam.

· Amarawati – Kota Amarawati menguasai daerah yang merupakan propinsi Quang Nam sekarang ini di Vietnam.

· Vijaya – Kota Vijaya ini disebut Cha Ban, yang terdapat beberapa mil disebelah utara kota Qui Nhon di propinsi Binh Dinh di Vietnam. Selama beberapa waktu, kepangeranan Vijaya pernah menguasai sebagian besar wilayah propinsi-propinsi Quang Nam. Quang Ngai, Binh Dinh, dan Phu Yen.

· Kauthara – Kota Kauthara saat ini disebut Nha Trang, yang terdapat dipropinsi Khanh Hoa sekarang ini di Vietnam.

· Panduranga – Kota Panduranga saat ini disebut Phan Rang, yang terdapat di propinsi Ninh Thuan sekarang ini di Vietnam. Panduranga adalah daerah Campa terakhir yang ditaklukkan oleh bangsa Vietnam.

C. Runtuhnya Kerajaan Campa (Penaklukan Vietnam)

Perluasan wilayah Vietnam ke Selatan, Nam-tien (Dai Viet) yang bermula tidak lama setelah terbentuk kerajaan Viet secara rasmi pada tahun 939 Masehi. Serangan pertama yang dilakukan oleh negeri Viet di utara pada tahun 982. Dalam serangan ini, Indrapura, ibu kota pertama Campa telah dimusnahkan. Dari tahun 982 Masehi ini maka bermula pergerakkan Vietnam ke selatan yang mengancam keselamatan pusat kekuasaan Campa[7]. Ini bererti Campa terpaksa mundur ke selatan dan ibu kotanya terpaksa dipindahkan jauh ke selatan pada tahun 1000 masehi. Selepas itu Campa terus menerus ditekan oleh serangan Vietnam ke selatan sehingga tahun 1471 ibu kotanya, Vijaya, diserang pula, dimusnahkan dan dihancurkan secara sistematik, apa saja yang bersifat kebudayaan Campa. Orang Viet juga membunuh dan mengusir orang Campa ke kawasan lain di selatan. Hanya sebahagaian kecil rakyat Campa bisa menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke Kamboja. Tahun 1471 menandakan kemenangan secara mutlak masyarakat berpengaruh Cina ke atas masyarakat berpengaruh Hindu yang sejak abad ke–2 masehi menguasai bagian timur semenanjung Indocina.

Pada tahun 1653, Vietnam menaklukkan Kauthara dan pada tahun 1692, dan bagian lain di selatan yang disebut Panduranga yang merupakan kawasa-kawasan terakhir Campa. Oleh kerana adanya perlawanan hebat orang-orang Cam, maka kerajaan Vietnam yang waktu itu berpusat di Hue menguasai Campa semula, baru pada tahun 1694 menguasai kawasan Panduranga. Akhirnya pada tahun 1832, zona otonomi Campa dihapuskan dan dirampas oleh kerajaan Vietnam. Identitas kerajaan Campa terhapus pada tahun 1835 untuk selama-lamanya.

Serangan suku Viet, yaitu suku mayoritas yang membentuk negara Vietnam, ke selatan ini memaksa masyarakat Campa, khususnya masyarakat Camp melarikan diri dari tanah airnya untuk menyelamatkan diri mereka dan mencari perlindungan di kerajaan-kerajaan lain di mana rasa keselamatannya terjamin.

Mereka mencari perlindungan di Kamboja, Semenanjung Tanah Melayu (Kelantan, Johor dan Melaka) dan pulau-pulau lain di Nusantara yaitu Sumatra dan Kalimantan. Daerah-daerah tersebut pernah menjalin berbagai bentuk hubungan dengan kerajaan Campa. Kehadiran sebagian besar kaum Campa di Kamboja adalah selepas 1471 yakni selepas penaklukan Vijaya oleh orang Viet, pernah disinggung dalam kronikel Khmer.[8] Diamana kehadiran kumpulan besar yang berikutnya adalah pada tahun 1692-1693 selepas Vietnam menduduki wilayah Phanrang.

Tindakan Maharaja Ming Menh yang menghapuskan identitas Kerajaan Campa pada tahun 1832 telah mengakibatkan dua pemberontakan oleh orang Campa untuk menuntut kembali wilayah mereka. Akan tetapi kedua pemberontakan tersebut dapat dikalahkan oleh Minh Menh. Di antara ahli masyarakat Campa itu ada yang dituduh, ditangkap dan dihukum oleh Maharaja Ming Menh. Masyarakat Cam melarikan diri ke Kamboja setelah Panduranga (Campa) ditakluk buat selama-lamanya pada 1835.

D. Budaya dan Agama

Penduduk Campa pada mulanya beragama Hindu. Kemudian pada abad ke-11 sampai abad ke-17 terjadi kontak dengan pedangan-pedagang muslim. Karena adanya gangguan dari Dai Viet, proses pengislaman itu menjadi tidak menyeluruh. Walaupun begitu, jumlah orang Campa yang beragama islam hampir seluruhnya. Jumlah orang Campa penganut islam di Kamboja lebih 80% dari total orang Campa. Kecuali orang Campa yang berada di Vietnam (Annam), penganut islam hanya sekitar sepertiga dari jumlah populasi masyarakat Campa yang ada.

Penduduk Campa yang muslim kini tinggal berdampingan dengan orang Khmer yang beragama budha, disamping juga berdampingan dengan sesama orang Campa tapi penganut hindu. Sampai saat ini, setelah kawasan indocina dikuasai komunis[9], kehidupan beragama dan jumlah penduduk Campa yang tinggal di Vietnam dan Kamboja hanya diperkirakan sekitar 100.000 orang.

Orang Camp di Kamboja tidak mengijinkan perkawinan antar agama kecuali dengan syarat bahwa pihak yang bukan islam masuk islam. Oleh karena orang Khmer boleh dikatakan tak pernah akan meninggalkan agama budha, tiada kemungkinan bahwa kedua bangsa akan terpadu, sedang orang Cam dengan orang Melayu perkawinan sering terjadi. Perceraian lebih sulit dan lebih jarang terjadi daripada di Annam. Perkawinan mereka hampir selalu subur, akan tetapi Orang Cam di Kamboja bertambah banyak jumlahnya dengan mengangkat anak asing kedalam sukunya, yaitu anak bangsa Annam atau lebih-lebih lagi anak Khmer yang diterimanya sebagai pembayaran hutang yang tak terlunasi, dan akan dididiknya dalam agama islam.

Di Annam, negeri kelahiran orang Camp, orang-orang Cam islam tidak lebih hanya segenggam jumlahnya, berperangai lemah lembut, tiada bersemangat, sengsara, hidup merana, dan jika tidak semakin berkurang jumlahnya bertambah pun tidak. Tingkat kecerdasannya yang sangat rendah tercermin pada cara mereka mengubah system agamanya, sekurang-kurangnya mereka dapat dijadikan contoh bahwa dalam jiwa yang gelap dan tidak bertenaga, islam sebagai agama kehilangan sifatnya yang militant yang menurut pendapat umum yang dimilikinya, sedangkan lebih tepat menganggap watak berperang tersebut sebagai warisan bangsa-bangsa yang pertama melahirkan atau menganut agama islam. Agama islam di Annam, tidak murni lagi, banyak yang tercemar oleh praktk-praktek sihir dan bekas-bekas kepercayaan pribumi. Dalam praktek keagamaan, para imam (penghulu) di Annam (Binh Thuan), bukan saja tidak mengerti bahasa arab melainkan juga sukar pula membaca aksara arab. Surah-surah dan do’a-do’a dihapalnya diluar kepala tetapi dilafalkannya dengan sangat berbeda dengan aslinya. Kita lihat contoh berikut ini:

o Bahasa Arab: Bismillaahirrahmaanirrahiimi

OóÎ0 !$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#

Bahasa Camp: Abih similla hyor rah monyor rah himik.

o Bahasa Arab: Allahu akbar, la ilaha illallah allahu akbar

Bahasa Cam: Aulahu akkabar , la ilaha illauwahuk wuwukwahuk akkabar

Dilain pihak, orang Camp di Kamboja merupakan masyarakat yang bersatu padu dan sadar, yang lambat laun bertambah juga jumlahnya dan kekuatannya, hal yang tak perlu diherankan untuk Negara yang kesuburan wanitanya diimbangi oleh tingginya angka kematian anak-anak. Apakah hal ini harus ditanggapi sebagai akibat kebebasan yang dinikmatinya dibandingkan dengan orang sebangsanya di Annam yang sejak berabad-abad ditundukkan dibawah perbudakan yang paling menyedihkan? Itu mungkin saja, malahan kebenaran tanggapan itu diharapkan, agar berdasarkan wawasan itu, daya upaya kita untuk membangun kembali masyarakat Camp di Binh-thuan berhasil. Namun kebebasan itu tak dapat dianggap sebagai sau-satunya sebab, karena orang Khmer sejak lama sudah merdeka ditanah airnya sendiri dengan iklim yang sama bahkan tetap lebih malas dan lebih tak acuh terhadap masa depannya daripada orang Camp pendatang itu.

Dapatlah disimpulkan bahwa agama islam yang dipahami dengan baik daripada di Annam oleh orang Camp dan Melayu di Kamboja yang seagama, dan kegiatan dan keberhasilannya sama pula, telah bekerja bagaikan api semangat pada bangsa yang demikian santai sifanya itu? Kesimpulan itu dapat diterima tetapi dalam batas-batas tertentu saja, karena orang Camp di Annam tak kalah merosot dengan orang Camp beragama hindu. Sedangkan orang Melayu di Indocina jelas menampilkan ketabahan, pandangan jauh, dan jiwa dagang seperti di Indonesia. Pada kedua unsur kemajuan yang begitu penting itu, yaitu kebebasan dan system agama yang merangsang daya bertindak perorangan, baik ditambah unsur ketiga: keharusan yang dialami oleh orang Camp sebagai pelarian yang selama itu begitu benci perbudakan sampai terpaksa melarikan diri, sejak mereka mengungsi di Kamboja (yang memadukannya dalam satu masyarakat), untuk menciptakan suatu kesatuan yang sekaligus bersifat membina kerukunan antara mereka dan rajin serta tangguh terhadap orang luar, seperti halnya setiap minoritas yang tidak mau tenggelam atau dikucilkan.[10]

E. Orang Camp Hijrah Ke Kamboja

Kehadiran kaum Cam di Kamboja adalah umumnya disebabkan tekanan Nam-tien. Kamboja terletak di bagian Timur Asia, berbatasan dengan Thailand dari arah utara dan barat, Laos dari arah utara dan Vietnam dari arah timur dan selatan. Luas negara ini 181.055 Km2 dengan jumlah penduduk 11.400.000 jiwa, 6% beragama Islam dan mayoritas beragama Budha serta minoritas beragama Katholik. Beberapa ahli sejarah beranggapan bahwa Islam sampai di Kamboja pada abad ke-11 Masehi. Ketika itu kaum muslimin berperan penting dalam pemerintahan kerajaan Campa, sebelum keruntuhannya pada tahun 1470 M, setelah itu kaum muslimin memisahkan diri. Sepanjang sejarah Kamboja baru-baru ini, kaum muslim tetap teguh menjaga pola hidup mereka yang khas, karena secara agama dan peradaban mereka berbeda dengan orang-orang Khmer yang beragama Budha. Mereka memiliki adat istiadat, bahasa, makanan dan identitas sendiri, karena pada dasarnya, mereka adalah penduduk asli kerajaan Campa yang terletak di Vietnam yang setelah kehancurannya, mereka hijrah ke negara-negara tetangga di antaranya Kamboja, ini terjadi sekita abad ke-15 Masehi.

Pada permulaan tahun 70-an abad ke-20, jumlah kaum muslimin di Kamboja sekitar 700 ribu jiwa. Mereka memiliki 122 mesjid, 200 mushalla, 300 madrasah islamiyyah dan satu markaz penghafalan al-Qur'an al-Karim.

Sejak kehilangan kerajaan Campa, masyarakat Camp telah menjadi minoritas di beberapa buah negeri di Indochina, yaitu di Kamboja, Vietnam dan di Laos. Di negeri-negeri tersebut mereka melibatkan diri dalam berbagai cabang kehidupan termasuk perniagaan, politik dan tentara khususnya di Kamboja. Peristiwa di Indocina pada tahun 1975 mengakibatkan sekali lagi penghijrahan masyarakat Cam ke negara-negara lain di seluruh dunia seperti ke Malaysia, Amerika Syarikat, Perancis, Australia dan lain-lain.

Mereka yang datang ke Kamboja terdiri dari berbagai kelas sosial. Mereka diterima oleh orang Khmer, dari masyarakat umum sehingga keluarga raja. Pelarian Cam diterima dan disenangi oleh keluarga diraja. Sebagai contoh, pada tahun 1692 mereka diberi perlindungan oleh Raja Jayajettha III (1677-1705). Raja Jayajetta III mengizinkan mereka mendiami beberapa bagian Srok Khmer (Kamboja) di antaranya kawasan Oudong (ibu kota negara Kamboja pada masa itu), dalam propinsi Thbaung Khmum, Stung Trâng dan berbagai kampung di Kamboja. Mereka diperbolehkan tinggal di mana saja dalam wilayah Kamboja. Pada abad ke-19 kumpulan pertama orang Perancis yang tiba terkejut dengan hubungan, simbiosis yang terjalin dan mereka melihat “bagaimana orang Islam dan Buddha hidup bersama bagaikan adik-beradik.” [11]

Kini, disebabkan posisi tersebut, masyarakat Camp, bersama dengan masyarakat Melayu yang datang dari Nusantara, menghuni di seluruh kawasan Kamboja. Walau bagaimanapun konsentrasi penduduk berpusat di tebing Tonle Thom (sungai Mekong) (dari Kratie ke Phnom Penh), tebing sungai Tonle Sap, (dari Phnom Penh ke Kompong Chhnang, khususnya di Chraing Chamres, Khleang Sbek dan Kompong Luong), di kawasan Tasik Tonle Sap dan di daerah Kampong Cham, Pursat, Battambang dan Kompot. Mereka juga terdapat di kawasan pinggiran kota Phnom Penh seperti di Chroy Changvar dan Prek Pra. Perkampungan terbesar kaum Melayu terdapat di propinsi Kompot, Battambang dan di kampung-kampung di Kompong Luong. Keduanya, maysarakat Melayu dan Cam membentuk suatu masyarakat Islam yang menyatu.

Sebuah manuskrip Camp secara puitis menerangkan mengenai pemberontakan Putera Sivutha iaitu adik kepada Raja Norodom. Manuskrip ini menceritakan bagaimana orang Cam dan Melayu membentuk perkampungan mereka di Prey Pus, Chouk Sâr dan Srê Prey dalam propinsi Kampong Chhnang. Setelah mereka menetap di Kamboja mereka menikmati hak yang sama dengan orang Khmer. Di kawasan berpendudukan Melayu-Cam yang menganut agama Islam, masjid atau surau didirikan bagi tujuan beribadah serta juga aktivitas-aktivitas kemasyarakatan yang lain seperti, pendidikan dan pengajian agama Islam.

Sepanjang sejarah masyarakat Cam di Kamboja, mereka, bersama orang Khmer, telah melalui banyak kisah suka duka termasuk zaman pembunuhan beramai-ramai oleh rezim Pol Pot yang banyak melakukan penganiayaan kejam terhadap penduduk Kamboja pada tahun 1975-1979.

Kejatuhan negara Republik Khmer (Kemboja) pimpinan Lon Nol kepada pihak komunis yang dikenal sebagai Khmer Rouge (Khmer merah) pada bulan April 1975, satu rezim zalim, ganas dan tidak berperikemanusiaan yang dibangun oleh Khmer Rouge di bawah pimpinan Pol Pot. Pemerintahan ini bertujuan untuk membersihkan dan mewujudkan suatu masyarakat Khmer bercorak sosialis yang ‘ideal’. Kota-kota besar seperti Phnom Penh dikosongkan, kehidupan berkeluarga dimusnahkan dan agama-agama seperti Islam, Buddha dan Kristian dihapuskan. Peristiwa ini telah mengakibatkan satu jutaan orang rakyat Khmer mati dianiyaya, dipenjara dan dibunuh dengan sewenang-wenang. Anggota bekas pemerintahan Lon Nol dan tentara, apabila dapat dikenali, dibunuh. Akibat dari kekejaman Khmer Rouge itu, rakyat Kamboja terpaksa melarikan diri ke negara-negara tetangga, terutama sekali Thailand dan Malaysia mencari perlindungan.

Dalam bulan April itu juga Vietnam telah jatuh kepaga regim Komunis. Rakyat Vietnam termasuk orang Camp, telah menjadi pelarian di beberapa buah negeri tetangga, akibat dari dasar pemerintahan komunis. Ada yang melarikan diri melalui jalan darat dan yang melalui jalan laut yang dikenali sebagai the boat people.

Karena dengan kejatuhan Kamboja pada April 1975 hingga tahun 1979, pelarian-pelarian tersebut mulai membanjiri Thailand dan antara mereka itu terdapat sejumlah pelarian Khmer Islam yaitu orang Melayu dan Camp yang beragama Islam. Pelarian-pelarian itu berpusat di kawasan Aranyaprathet, sebelah timur Thailand dekat dengan Kamboja. Kebanyakan dari pelarian itu beragama Buddha dan mereka mendapat layanan orang Thai yang juga beragama Buddha. Pelarian Khmer Islam atau Melayu-Cam juga mendapat layanan orang Thai bergama Islam melalui beberapa perkumpulan Islam Thai di Bangkok. Walau bagaimana pun pelarian Melayu-Cam itu menarik untuk mendapatkan perlindungan di Malaysia, khususnya ke Kelantan karena ada di kalangan pelarian Melayu-Cam itu yang mempunyai sanak saudara dan juga kenalan di Kelantan.

Karena berkali-kali terjadi peperangan dan kekacauan perpolitikan di Kamboja dalam dekade 70-an dan 80-an lalu, mayoritas kaum muslimin hijrah ke negara-negara tetangga dan bagi mereka yang masih bertahan di sana menerima berbagai penganiayaan; pembunuhan, penyiksaan, pengusiran dan penghancuran mesjid-mesjid dan sekolahan, terutama pada masa pemerintahan Khmer Merah, mereka dilarang mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan, hal ini dapat dimaklumi, karena Khmer Merah berfaham komunis garis keras, mereka membenci semua agama dan menyiksa siapa saja yang mengadakan kegiatan keagamaan, muslim, budha ataupun lainnya. Selama kepemerintahan mereka telah terbunuh lebih dari 2 juta penduduk Kamboja, di antaranya 500.000 kaum muslimin, di samping pembakaran beberapa mesjid, madrasah dan mushaf serta pelarangan menggunakan bahasa Campa, bahasa kaum muslimin di Kamboja.

Baru setelah runtuhnya rezim Khmer Merah ke tangan pemerintahan baru yang ditopang dari Vietnam, secara umum keadaan penduduk Kamboja mulai membaik dan kaum muslimin yang saat ini mencapai kurang lebih 45.000 jiwa dapat melakukan kegiatan keagamaan mereka dengan bebas, mereka telah memiliki 268 mesjid, 200 mushalla, 300 madrasah islamiyyah dan satu markaz penghafalan al-Qur'an al-Karim. Di samping mulai bermunculan organisasi-organisasi keislaman, seperti Ikatan Kaum Muslimin Kamboja, Ikatan Pemuda Islam Kamboja, Yayasan Pengembangan Kaum Muslimin Kamboja dan Lembaga Islam Kamboja untuk Pengembangan. Di antara mereka juga ada yang menduduki jabatan-jabatan penting dipemerintahan, seperti wakil perdana menteri, menteri Pendidikan, wakil menteri Transportasi, dua orang wakil menteri agama dan dua orang anggota majelis ulama.

Sekalipun kaum muslimin dapat menjalankan kegiatan kehidupan mereka seperti biasanya dan mulai mendirikan beberapa madrasah, mesjid dan yayasan, namun program-program mereka ini mengalami kendala finansial yang cukup besar, melihat mereka sangat melarat. Ini dapat dilihat bahwa gaji para tenaga pengajar tidak mencukkupi kebutuhan keluarga mereka. Disamping itu sebagian kurikulum pendidikan di beberapa sekolah agama sangat kurang dan tidak baku.

Saat ini kaum muslimin Kamboja berpusat di kawasan Free Campia bagian utara sekitar 40 % dari penduduknya, Free Ciyang sekitar 20 % dari penduduknya, Kambut sekitar 15 % dari penduduknya dan di Ibu Kota Pnom Penh hidup sekitar 30.000 muslim. Namun sayang, kaum muslimin Kamboja belum memiliki media informasi sebagai ungkapan dari identitas mereka, hal ini dikarenakan kondisi perekomomian mereka yang sulit.

BAB III.

PENUTUP

Pencaplokan negeri Campa oleh orang Vietnam pada tahun 1471 mengakibatkan sebuah pengungsian dan penderitaan orang Camp. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan, pengislaman pembesar-pembesar negeri Campa baru terjadi pada abad ke-17; namun demikian tidak boleh disangkal bahwa orang islam sudah banyak jumlahnya di Campa sejak abad ke-15, dan suatu hal yang sangat menarik ialah bahwa pengungsi-pengungsi tadi langsung mencari perlindungan didaerah yang mereka ketahui sebagai daerah yang beragama islam kuat, yaitu pelabuhan di Jawa Timur yang telah dikunjungi Raden Rahmat[12], Pelabuhan-pelabuhan di Sumara Utara yang di-Islamkan sejak akhir abad ke-13 dan tentu saja Malaka yang telah menjadi Kesultanan beberapa puluh tahun sebelumnya.

Sejak saat itu bangsa Cam seolah-olah bercabang dua. Kebanyakan penduduk tetap dinegerinya sendiri dan meskipun adanya pengasingan-pengasingan serta tindakan asimilasi mereka berusaha mempertahankan kepribadiannya kalau bukan kemerdekaannya; dilain pihak para pengungsi yang boleh kita sebut orang-orang “Cam seberang” menyebar keberbagai tempat di Asia Tenggara, dan terus menerus mempunyai perananan penting dengan latar belakang yang selalu islam. Dengan perbedaan yang jelas, nasib mereka mengingatkan kita akan persamaan nasib perantau Bugis yang setelah Makassar direbut Belanda, dan setelah perjanjian Bongaya (1667) lebih suka meninggalkan Sulawesi dan mengadu nasib di Jawa Timur, Banten, Pesisir Sumatra sampai Aceh, Kepulauan Riau, dan Semananjung Melayu. Hal ini dapat dilihat dari berbagai sumber sejarah, bagaimana peran orang Bugis-Makassar dan orang Melayu dan orang Campa dalam pemberontakan di Ayodya Thailand melawan raja Narai.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan kita lihat bahwa sepanjang sejarah masyarakat Camp, mereka berpindah-pindah, atau berhijrah dari sebuah negeri ke sebuah negeri yang baru untuk mencari perlindungan dari sesuatu peristiwa yang yang terjadi. Sejak abad ke 10 lagi bermula dari seri peperangan dengan tetangganya di utara, pusat kerajaan Campa terpaksa dipindahkan sedikit demi sedikit sehingga ke kehilangan untuk selama-lamanya pada tahun 1835. Akibat dari itu rakyat kerajaan Campa, orang Camp khususnya terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Abad ke-20 memperlihatkan satu seri peperangan ideologi, komunis melawan barat yang akhirnya dimenangi oleh pihak komunis. Kemenangan ini menyebabkan sekali lagi ramai di kalangan masyarakat Camp bersama-sama masyarakat lain di Indocina, terpaksa melarikan diri ke negeri yang lebih jauh lagi dari negeri nenek moyang mereka, yaitu Kerajaan Campa.

Orang Campa sebagian besar beragama islam, sehingga pada karya tulis ini apabila menyebut Camp, yang dimaksud adalah orang Cam islam. Tak dapat dipungkiri peranan Kerajan Camp dalam pengembangan agama islam di Indocina, bahkan jika ditelaah lebih jauh berdasarkan bukti dan asumsi sejarah, peranan orang Camp bukan hanya di Indocina bahkan diwilayah Nusantara. Salah asumsi sejarah yang kuat adalah keberadaan Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang disebutkan berasal dari Campa. Putri Campa Daravati istri Brawijaya V adalah penganut agama islam, yang nantinya akan melahirkan seorang raja islam pendiri kerajaan Demak, Raden Patah.

Pertanyaan kemudian muncul. Yang mana lebih dulu islam masuk dan berkembang di Indonesia atau di Indocina?

Berdasarkan fakta bahwa, islam ada di Kanton (Cina) pada abad ketujuh, yang dibawah oleh sahabat nabi Saad bin Lubaid. Jika Islam masuk di Pasai pada abad ke-7, ini bersamaan dengan masuknya islam di Kanton, karena jalur perdagangan. Kalau pernyataan ini benar, kemungkinan islam masuk di Indocina lebih kurang pada abad itu juga, karena jalur perdagangan antara Arab, India, Pasai dan ke Cina pasti akan melalui Indocina (Campa). Kesimpulan ini tidak ditemukan fakta sejarah yang menjelaskan hal ini, karena kurangnya informasi tentang itu.

Lampiran-lampiran

Peta Kerjaan Campa



Peta persebaran masyarakat Melayu-Camp di Indocina



Daftar Pustaka

Ecole Francaise D’Extreme-Oreient.1981.Kerajaan Campa. Jakarta: PN Balai Pustaka

Po Dharma. 1996. “Kerajaan Campa” dalam Semenanjung Indocina: Suatu Pengenalan. P.B. Lafont (Pnyt.). Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia: Kuala Lumpur.

Ismail Hussein, P.B. Lafont dan Po Dharma (Penyt.). 1995. Dunia Melayu dan Dunia Indocina. Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia: Kuala Lumpur.

H. Nur Syamsi Nurlan, Zubairi Hasan.2007. Pergulatan Pengusaha Muslim di Nusantara,
Jejak Pemikiran Islam Korporatis
. Katulistiwa Press.

2007. Sunan Ampel Berdarah Cina. Surabaya, NU Online.


[1] Daerah Campa terakhir yang direbut Dai Viet adalah Panduranga.

[2] Jawa dalam istilah Campa bererti orang-orang dari Nusantara berbahasa Melayu, bukannya orang Jawa sekarang

[3] Putri Jawa bernama Tapasi, berdasar prasasti Po Sah (dekat desa Chakling, sebelah selatan lembah Phanrang). Lihat Ecole Francaise D’Extreme-Oreient.1981.Kerajaan Campa. Hal 249

[4] Putri Campa bernama Daravati yang sudah memeluk islam atas jasa Makdum Ibrahim Asmara (ayah sunan Ampel)

[5] Berkuasanya rezim kemunis Khmer merah di Kamboja dan kemenangan komunis di Vietnam.

[6] Lihat peta kerajaan Campa pada lampiran

[7] Pusat kerajaan Campa waktu itu adalah Vijaya

[8] Mak Phœun, ‘La communauté malaise musulmane’, hal. 83; Mak Phœun, Histoire du Cambodge de la fin du XVIe siècle au début du XVIIIe siècle, Paris: EFEO, 1995, hal. 397–98; Mohamad Zain, ‘Kehadiran Orang Melayu’. For their arrivals before 1471, see Jacq-Herlgoualc’h, ‘L’armée du Campa…’, hal. 27–46. Penakluan Vietnam dan yang dikuti dengan diaspora rakyat Campa juga ada disebut dalam Hikayat Hasanuddin dan Sejarah Melayu. Sejarah Melayu bab 21 ada menyebut mengenai dua orang putera Cam iaitu Pau Liang, yang melarikan diri ke Aceh, dan Indra Berma, melarikan diri ke istana sultan Mansur’s (1458–77) di Melaka.

[9] Setelah terjadi perang dengan Khmer merah di Kamboja dan penguasaan Komunis di Vietnam

[10] Ecole Francaise D’Extreme-Oreient.1981.Kerajaan Campa. Hal 251-253

[11] Auguste Pavie, Mission Pavie Indo-Chine 1879–1895: Géographie et voyages. I. Exposés des travaux de la mission..., Paris: Challamel, 1901, hal. 28–9, ada menyebut tentang orang Cam. Walau bagaimanapun ini dipahami bahwa orang Islam tersebut adalah keduanya, kaum Cam dan Melayu. Terdapat juga dalam beberapa tulisan lain apabila disebut Melayu, termasuk juga kaum Cam.

[12] Raden Rahmat (sunan Ampel) adalah keponakan Daravati, putri Campa, istri Raja Brawijaya V



Related post:


0 komentar:

Posting Komentar